Jumat, 02 Oktober 2009

6. Farewell Rush (New)


Saturday, 11 July 2009

Hari ini aku pulang ke Jakarta. Pesawatku akan take-off jam 5 sore. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan sebelum pulang. Belanja membeli beberapa titipan. Termasuk menghubungi Jeff yang kemarin menabrak kami, dan mengurus segala sesuatunya.

Hari sudah siang. Aku mencoba menghubungi Jeff, namun masih belum ada balasan.

SMS Alicia masuk ...

Alicia : [ Aku sudah sampai di KL, terima kasih sudah membantu mengatasi kecelakaan tadi malam. ]

Ken : [ No problem. Aku juga punya andil dalam kecelakaan itu. Masih belum ada kabar dari Jeff. Nanti kukabari lagi. Have a fruitful trip in KL. ]

Alicia : [ Its not your fault okay ... Kasih kabar kalau perlu sesuatu dariku. :) ]

Setelah makan siang, aku kembali ke hotel untuk berkemas. Masih belum ada kabar dari Jeff. “Apakah dia mau lari dari tanggung jawab?” pikirku.

Matahari bersinar terik. Hawa panas terasa menyengat didalam taksi. Aku mulai tidak sabar, Jeff masih belum memberi kabar. Taksi sudah masuk jalan tol menuju bandara Changi.

Tiba dibandara, melewati prosedur rutin. Check in, mengurus bagasi dan melewati imigrasi. Saat sedang ribet-ribetnya, Jeff menelepon. “What a great timing ...”, pikirku.

Jeff minta maaf karena baru sekarang menghubungi. Ia bangun kesiangan setelah semalam berurusan dengan polisi dan membereskan segala sesuatu. Aku bernegosiasi dengan Jeff, bagaimana memperbaiki mobil Alicia. Pembicaraan aku potong, karena harus melewati petugas imigrasi.

Setelah melewati imigrasi, aku menuju boarding room sambil mencari telepon umum. Bandara Changi dilengkapi telepon umum yang dapat kita gunakan secara gratis, yang penting nomor lokal. Setelah menemukan telepon umum, aku menghubungi Jeff dan melanjutkan pembicaraan.

Alicia menginginkan agar mobil diperbaiki di bengkel langganannya. Maka aku minta Jeff untuk mengganti biaya perbaikan saja. Jeff tidak keberatan, hanya dia minta orang bengkelnya juga ikut memeriksa kondisi kendaraan dan menghitung biaya kerusakan.

“Sure ... Its a deal,” kataku. Dan semuanya beres. Aku mengirim SMS kepada Alicia, memberi kabar bahwa semuanya sudah oke.

Tiba tiba aku sadar, bahwa namaku dipanggil melalui pengeras suara untuk segera masuk ke pesawat. Aku segera berlari menuju boarding room.

Teleponku berbunyi ... “Thank you, my dear ... You are my hero ...”

Sambil terus berlari dan suara tersengal aku menjawab, “No sweat. Got to go. Wish u luck. Good Bye.”

Boarding room sudah kosong. Seorang pramugari cantik tampak tersenyum dan menunjuk ke arah pintu pesawat. Aku orang terakhir yang masuk pesawat.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

End Note :

Benny mengembalikan buku catatanku dan berkata, “Interesting Venture, Ken ...”

“It is obvious that you like Alicia,” kata Ben tanpa basa basi. Ia meneguk Ice Caramel Machiato kegemarannya, sambil mengamati reaksiku.

Saat itu aku bersama Benny di Starbucks Emporium Pluit. Starbucks tersepi yang pernah kudatangi. Beberapa kali Benny mengajakku bertemu. Namun jadwal penerbangan yang padat, membuat baru sekarang aku bisa menemuinya. Kami bertukar pengalaman saat mengikuti seminar. Tak terasa sudah sebulan berlalu.

“Masih terlalu dini. Aku tidak memikirkannya secara serius. Tapi ya, aku tertarik dengan gaya dan kepribadiannya,” kataku.

“Apakah kamu masih berkomunikasi dengan Alicia sampai sekarang?”, tanya Ben.

“Ya. Hampir setiap hari kita saling mengirim SMS atau menelpon,” jawabku. “Saat dia di Amerika, atau saat aku terbang ke Thailand, kita terus berkomunikasi.”

Bien sûr ... Sudah jelas kamu tertarik dengannya. Hanya kamu masih belum yakin apakah Alicia juga memiliki perasaan yang sama,” kata Ben.

Aku terdiam ... Bayangan Alicia muncul di dalam benak ...

Ben bertanya lebih lanjut, “Apakah dia masih membujukmu untuk bergabung dengan bisnis sampingannya?”

Dengan pertanyaan ini, Benny berhasil menebak, apa yang mengganjal didalam hatiku.

“Masih ... Itulah Ben. Aku bingung apakah sikap Alicia kepadaku itu tulus, atau memang ada maunya,” jawabku. “Kalau memang, ia tulus aku tidak keberatan bergabung dengan bisnisnya. Namun kalau tidak, aku penasaran apakah dengan semua pria ia bisa sedekat ini.”

“Kennedy, bagaimana pun Alicia berasal dari budaya yang berbeda dengan kita,” kata Ben. “Apa yang biasa bagi dia, mungkin tidak biasa bagi kita. Dan apa yang luar biasa bagi kita, mungkin itu hal biasa bagi dia.”

“Jadi bagaimana Ben ... Kamu bisa membantuku menilai kepribadian Alicia?”

“Sejak kapan gue jadi peramal, Ken?” Benny tertawa geli. “Memang kalau cowok lagi resah karena cinta, logika pun jadi binasa. N’est pas?”

Aku tidak menganggap ini lucu. “Bisa bantu gak sih?”

“Ok ok ... Hehehe ... Pertama-tama aku minta foto si Alicia. Aku belum tau tampangnya kayak apa. Dari foto-foto dan catatanmu yang barusan kubaca, mungkin aku bisa menebak kepribadiannya.”, katanya.

Aku menunjukan beberapa foto Alicia yang kusimpan di HP kepada Benny. Ia melihat-lihat beberapa foto, mengerutkan dahi dan menyedot-nyedot minuman dengan lebih cepat.

“Hm, Alicia perempuan yang keras. Kalau dia menginginkan sesuatu, pasti dia akan berusaha mendapatkannya. Dia tidak suka ditolak, dan tidak suka mendengar orang berkata ‘tidak’ pada dirinya,” kata Benny.

“Ya, itu aku tau.”, jawabku. “Apalagi ...”

“Gimana ya ngomongnya ... Boleh aku bicara terus terang? Puis-je... ?” tanya Benny.

“Ya ya ya, S'il vous plaît ...”, jawabku tak sabar.

“Pilot juga harus bisa Perancis Ben ....,” kataku dalam hati.

“Alicia is Way Out of Your League ...”, kata Benny.

JLEB ...

“Kenapa kamu ngomong gitu?”, tanyaku.

“Pertama-tama perbedaan umur. Umurmu belum sampai 30, sedangkan Alicia aku rasa sudah lewat 35. Posisinya direktur di perusahaan besar. Can you see ... Pengalamannya tentang cowok jauh lebih banyak dibanding pengalamanmu soal cewek ...”, jawab Benny.

“Ben, aku juga lama pacaran. Dan gue bukannya cowok gak laku.”, kataku. Aku tidak tersinggung dengan perkataan Benny. Cuma memang ego ini terusik jika aku dibanding-bandingkan dengan Alicia.

“Ken, banyaknya pacaran bukan berarti kamu mengenal cewek. Pengalaman disini terkait dengan bagaimana mengendalikan seseorang. Kalau kamu jago dalam hubungan, maka kamu bisa mengendalikan pasanganmu tanpa ia sadari. Kamu hanya bisa mengendalikan kalau kamu bisa memahami.”

“Banyak cewek suka sama kamu dan kamu tidak kesulitan mendekati perempuan. Kalau orang terus disuapi, ia akan lupa bagaimana caranya makan,” kata Benny.

Aku hargai kelugasan Benny. Aku yakin apa yang dia katakan tidak bermaksud menyinggung atau menghinaku. Ini semua demi kebaikanku.

“Bener juga Ben. Make sense ... Please continue ...” Aku ingin tahu lebih lanjut analisa Benny.

“Dalam hubungan, pasti dia yang pegang kendali. Dia bukan perempuan yang sabar. Selalu ingin cepat. Namun kalau sudah memiliki satu target, dia akan bisa sangat sabar untuk mencapai target itu.”

“Dalam pekerjaan, aku yakin dia orang yang cukup keras terhadap bawahan. Goal oriented, persuasive, a good speaker, a deal maker and hard seller ... Tidak heran dia menempati posisinya sekarang diperusahaan.”

Aku teringat Alicia pernah berkata, bahwa setiap tahun ia pasti naik jabatan. Karirnya menanjak sangat cepat.

“Ken, aku tau apa yang membuatmu tertarik dengan Alicia. Ia berbeda jauh dengan perempuan yang selama ini pernah kamu kenal." Ia melanjutkan, "Kamu relatif mudah mendapatkan cewek. Ini membuatmu merasa bosan dan tidak memiliki tantangan. Ketika bertemu Alicia kamu menemukan sesuatu yang berbeda. Mandiri, susah ditebak, dan sulit ditaklukan.”

“Selain membaca Alicia, kamu juga membacaku ya Ben ...”, ungkapku.

“Aku rasa ini sudah jelas. Gak perlu jadi peramal untuk bisa membacanya”, kata Benny. “Hanya aku saran, kamu berpikir jangka panjang kalau ingin mendekati Alicia. Apakah dalam jangka panjang karakternya bisa kamu terima. Karena di awal mungkin kamu masih bisa sabar, tapi dalam jangka panjang, belum tentu ...”

Aku mengangguk-angguk mendengarkan uraian Benny. Yes teacher ...”, gurauku.

“Halah ...”, dengus Benny. Ia meneguk habis Ice Caramel Machiato-nya.

“Satu hal lagi. Apakah kamu tau, kenapa cewek semenarik Alicia sampai seumur itu masih belum memiliki pasangan?”

Aku tercenung ... “Benar juga. Aku belum pernah menyelidiki hal ini ...”, pikirku

Ben melanjutkan, “Kamu masih mengenal Alicia hanya sebatas luar saja. Saranku kamu gali informasi lebih jauh tentang dia.”

“Apa yang kamu katakan semua masuk akal. Memang aku merasakan ada dinding yang Alicia pasang untuk membatasiku. Aku akan mencoba mengenal kepribadian Alicia lebih dalam,” kataku.

“Tapi bukan berarti kamu harus jadi kaku, Ken. Jangan dijadikan beban pikiran. Kamu masih single belum punya pacar. Just enjoy it, while you can ... Analisaku hanya pelengkap dan bisa saja salah. Trust your hope not your fear ...”, kata Benny mencoba memberikan harapan.

Surely Ben. No worries, I know what I should do ... Tapi apa yang kamu katakan tadi, sungguh masukan yang berguna ...”, kataku.

“Sip ... Yang jelas pengalamanmu ini, sangat menarik untuk dimasukan blogku. Thank you sudah nyumbang artikel. Merci Beacoup ...”, kata Benny.

Kami meneruskan obrolan beberapa saat. Setelah itu kami pulang. Benny membawa buku catatanku untuk ditulis ulang dan dijadikan bahan blognya.

Awalnya aku berharap cerita ini merupakan sebuah awal dari romansa antara aku dengan Alicia. Namun setelah bertemu Benny, aku sadar bahwa romansa ini hanyalah angan-anganku belaka ...

No comments yet