Sabtu, 06 September 2008
Miya ..., Prolog
Urutan: 1. Prolog --> 2. Encounter --> 3. First Time --> 4. Epilogue
“Nih nomornya ...”, Vera menyodorkan HP-nya kepadaku.
Aku melihat layar HP Vera, sambil menyeruput Caramel Machiato. Tampak sederet nomor yang tidak dikenal.
“Hm ... aku nggak familiar juga ini nomor siapa.”, kataku.
“Aku juga gak tau Ben. Tapi nih orang suka miscall ama SMS ... Terganggu juga sih.”, jawab Vera kesal.
Aku mencoba menghibur Vera. “Sebagian cewek seneng lho kalau menerima SMS misterius kayak gini. Tandanya tuh cewek punya penggemar.”
“Kalau jaman SMU atau kuliah mungkin ... Tapi sekarang gue mau yang pasti-pasti aja ... Bukan apa apa, biasanya yang kirim SMS kayak gini bukan tipe cowok yang gue mau. Sorry nih Ben, bukannya gue meremehkan cowok. Tapi gue dah punya banyak pengalaman dikecewakan ketemu yang model kayak gini.”, keluh Vera. Dari tadi Vanilla Latte yang sudah dipesannya belum juga disentuh.
“Memang yang seperti ini bukan cowok PD.”, kataku membenarkan. Teringat dulu, waktu kuliah dulu, aku juga menggunakan media SMS untuk berkenalan dengan cewek. Maklum dulu, aku juga bukan cowok PD. (Tapi sekarang ya sudah beda, hehehe ...)
“Gue lebih menghargai kalau berani kenalan langsung, atau kirim email dan tukeran Friendster atau Facebook. Biar jelas tampangnya kayak apa, dan yang paling penting STATUS. Kalau yang deketin gue statusnya udah “in relationship” atau “married” ... Ih males banget deh. Ntar gue dilabrak lagi, hahaha ...” Aku dan Vera tertawa ...
Vera memang memiliki sense of humor tinggi. Tidak seperti kebanyakan perempuan cantik yang cenderung ‘jaim’, ia selalu ‘blak-blakan’ mengekspresikan pikirannya. Bila ngobrol dengan Vera, aku tidak harus menduga-duga maksud dibalik ucapannya. Vera mempunyai banyak cerita menarik. Dulu ia pernah menyumbang artikel yang cukup kontroversial, Poligamers ... The Chinese Way.
“Ah sudahlah bahas tentang diriku ini. Ayo gantian cerita Ben ... Sepertinya dari tadi aku melulu yang cerita. Gantian kamu dong.”, kata Vera.
“Nggak apa lagi. Aku suka denger kamu cerita. Lagian aku udah banyak omong kalau dikantor.“, kataku. Vera berasal dari keluarga yang mempunyai latar belakang menarik. Aku selalu tertarik mendengar ceritanya.
“Itu kan beda. Kantor ya kantor. Maksudku kamu ceritalah tentang pengalamanmu sendiri. Lagian kalau aku perhatiin di Blogmu itu, sebagian besar ceritain tentang pengalaman orang lain. Sedikit tentang dirimu. Sesekali cerita dong pengalamanmu sendiri.”, kata Vera sambil mulai meminum Vanilla Lattenya.
Aku berusaha mengelak, “Memang konsep blogku itu menceritakan teman teman. Bukan menceritakan diriku. Aku sebagai pengamat, orang ketiga aja. Jadi kalau terlalu banyak cerita tetang diriku, melenceng dari konsepkan ...”
“Ah, ... sekali-kali menyimpang dari konsep gak masalah. Next posting adalah ceritamu ya. Kalau kamu nulis itu, aku janji nyumbang artikel satu lagi.”, bujuk Vera.
Aku teringat temanku Dahlia dan Daniel juga pernah mengatakan hal yang sama. Bahwa sesekali aku menceritakan pengalaman diriku.
“Kamu mau aku cerita apa? Ada ide?”, tanyaku.
“Yang simple-simple aja, Ben. Your first love atau semacam itu ...”, ujar Vera sambil buru-buru meminum Vanilla Lattenya.
Gubrak ... Public Humiliation in progress ...
“Aduh Ver, aku malah berusaha blogku terhindar dari topik-topik kayak gitu. Apalagi menceritakan tentang diriku ... Sorry cari topik lain aja”, kataku.
Reaksiku ini malah membuat Vera penasaran dan terus mendesak. Aku terus menolak dan mencari-cari alasan. Namun ia terus mendesak dan membujuk. Akhirnya aku mengalah ...
“Kamu mau cerita cinta pertama yang gimana? Pertama kali sadar bahwa cewek ama cowok itu beda? Atau pertama kali suka, cinta monyet, ama cewek? Atau pas pertama kali pacaran? Beda lho ...”, kataku. Sengaja biar Vera bingung sedikit ...
Vera berpikir sejenak ...
“Hm, bener juga ya ... Beda beda tahapannya ... Kamu tuh cocok jadi Psikolog Ben.” Vera tersenyum kemudian ia berkata, ”Ceritain pengalamanmu pertama kali pacaran aja. Pacaran sama cewek yang bener bener kamu sayang.”
Obrolan dengan Vera di Starbucks tadi, membuatku menulis cerita lama ini. Diantara yang lain, tulisan ini paling lama kukerjakan. Ada beberapa sebab:
- Kejadiannya sudah berlangsung lama. Banyak hal terlupa. Berpikir dan mengingat-ingat kejadian masa lalu, bukan hal yang mudah.
- Tidak ada motivasi menulis. Saat didepan komputer untuk mulai menulis, ... Ngeblank ... Mandek ... Tidak tau mau menulis apa, atau mulai darimana.
- Ben yang dulu berbeda dengan Ben yang sekarang. Banyak karakter yang sudah berubah. Jadi bisa dibayangkan, susahnya berusaha kembali menjadi Ben yang dulu dan menulis sesuai dengan karakter saat itu (biar feelingnya dapet).
- Pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan, membuat semakin lama tulisan ini kukerjakan.
To Be Continue ...

No comments yet