Sabtu, 26 Juli 2008
What Makes a Man, a Man ...
“Gue ngerasa kehilangan juga …”, kata Hadi mengenang temannya.
Kami bertiga duduk di area terbuka Starbucks Plasa Senayan. Disini Hadi dan Vince dapat bebas menghisap rokok.
“Gak ada lagi biang kerok dikantor … Gak ada lagi yang ngajak ribut dan cari masalah. Dulu pas dia ada, semua orang pada benci dan pengen dia out. Sekarang pas lewat seminggu dia keluar, kantor malah sepi. Gak ada yang bisa dijadiin bahan gosip atau cercaan ... Tanpa sadar, kita udah terbiasa dengan keonarannya ...”, lanjut Hadi.
Angin malam berhembus kencang dan dingin. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Aku mendengarkan cerita Hadi, sambil melawan hawa dingin yang menusuk.
“Seharusnya aku memesan sesuatu yang hangat …”, pikirku dalam hati. Tapi Ice Caramel Machiato, est mon préféré, aku tidak mau memesan yang lain ...
“Si Iwan itu, kalau ngomong ‘nyelekit’. Gak mau kalah, emosional, egois … you name it, Ben …”, lanjut Hadi. “Suka ngeremehin orang dan anggep diri paling hebat. Kalau bicara ama dia, selalu gayanya ngajak berantem. Lots of BULLSH_T”
“Tapi ya itulah, sejak dia resign, kantor jadi sepi. Gak ada lagi musuh bersama, PUBLIC ENEMY NUMBER ONE, yang bisa dijadikan bahan caci maki teman sekantor”, kata Hadi.
“Kedengarannya si Iwan ini, punya masalah attitude problem yang akut.”, sela Vince sambil menghisap rokoknya. Vince sendiri bukan orang populer dikantor (lihat: Destiny of An Idealist atau First Step).
“Mustinya orang kayak gitu jangan dimusuhin. Pasti ada alasannya kenapa dia seperti itu.”, ujarku kepada Hadi.
Hadi mengangguk dan berkata, “Ya itu Ben … Akhirnya gue deketin dia. Kebetulan kita satu tim proyek. Jam makan siang, gua ajak ngobrol. Kadang suka ngerokok atau ngopi bareng di tangga darurat. Lama lama dia mulai membuka diri … Ternyata memang dia punya luka batin ...”
“Hm, terluka batinnya gara-gara cewek atau keluarga?”, tanya Vince sambil menyeringai.
“Karena keluarganya ...”, kata Hadi dengan mimik serius. “Dari kecil ibu bapaknya udah pisah. Bapaknya ninggalin keluarga untuk wanita lain. Jadi dia hidup sama ibu nya, yang jadi single parent. Ibunya sering stress dan mukulin dia … Kasian juga masa kecilnya … “
”Sebenernya kalau dia lagi insyaf, dia ngaku kalau dia orang yang nyebelin. Dia curhat kalau dia jadi gini, karena hatinya luka … Dia marah, dia berontak … Dia terus terang, kalau iri melihat orang lain bahagia. Gue jadi simpati sama Iwan ... Siapa sih yang nggak mau jadi orang yang menyenangkan dan banyak teman? Dia jadi begitu karena latar belakang keluarganya yang berantakan ...”, lanjut Hadi.
Vince menggeleng dan berkata, “Tapi gak selalu seperti itu. Gak melulu keluarga berantakan menghasilkan orang kayak Iwan. Gue ada temen yang bokapnya tajir banget. Dimanjain ama bonyoknya. Tapi sikapnya juga nggak beda jauh sama Iwan. Nggak disukai ama temen temen lain.”
“Kerjanya dikantor cuma marah marah gak jelas. Kalau dia ngelakuin kesalahan, gak mau ngaku, malah nyalain orang. Suka anggep dirinya paling hebat. Orang lain dianggep kacung atau budaknya, suka main perintah sembarangan”, ungkap Vince dengan nada tinggi.
“Pernah sesekali, gue temenin dia jemput pacarnya di airport. Buset, kelakuan dia ama pacarnya bener-bener keterlaluan. Tuh cewek bawa koper sendiri, angkat-angkat sendiri. Dia cuma ngelitain dan ngomel-ngomel karena nunggu lama. Padahal pacarnya lagi ambil bagasi segede-gede bagong, yang isinya ya titipan dia semua.” Aku dan Hadi saling berpandangan, sedikit tidak percaya bahwa ada manusia seperti yang diceritakan Vince.
“Tapi yah... Gak ada yang berani ngelawan. Semua pada diem. Takut dipecat. Bapaknya super tajir dan dia putra mahkota. Ceweknya juga, mau aja diperlakukan kayak babu … Kacian …”, kata Vince dengan nada sinis.
“Pastinya dia dari kecil dimanja tuh …”, kata Hadi.
“Ya jelas bangeet nget ... “, Vince menjawab sambil lalu.
Sejenak kumerenung, dan mencerna cerita kedua temanku tadi. Dua orang dari latar belakang berbeda. Yang satu disiksa, yang satu dimanja … Hm … keduanya tidak membuahkan hasil yang baik. Segala hal yang ‘terlalu’ itu tidak baik. Terlalu keras, atau terlalu lunak… Wah, jadi berpikir betapa susahnya mengasuh dan mendidik anak itu.
Aku berkata, “Pertanyaannya adalah, apa sih yang membuat si Iwan jadi begitu? Apa sih yang membuat seseorang jadi hebat atau jadi penjahat? Apa yang membuat dia apa jadinya sekarang? What makes a man, a man … ?”
“Kalau gue tarik benang merah … Is The Hand that rock the cradle … (tangan yang menggoyang ranjang bayi)”, ujarku.
“Maksud lu Ben ?”, tanya Hadi.
Vince menyela dan menjawab pertanyaan Hadi, “Maksud si Ben, yang membuat kita menjadi sekarang ini, tak lepas dari tangan yang mengasuh dan membesarkan kita… Yang membuat Iwan jadi begitu tentu tidak lepas dari lingkungan dan latar belakang keluarga yang kurang kasih sayang. Benerkan Ben?”
“Yup … Vous avez raison.”, kataku. Tak terasa gelas minumanku, kosong ... Badanku sudah terbiasa dengan hawa dingin yang tadi terasa menusuk. Tergoda juga memesan Ice Caramel Machiato satu gelas lagi.
“Oh gitu … Hm, setuju sih … Kalau gue dah nikah dan punya anak, gue akan bertanggung jawab dan serius mikirin perkembangan dan pendidikannya …”, kata Hadi sambil menghirup habis minumannya. “Membuat anak kan gampang, tanpa modal … enak pula … Tapi tanggung jawab kedepan untuk membesarkan, nah itu yang susah dan butuh modal gede …”
“Yang disayangkan, gak sedikit orang tua sekarang lepas tanggung jawab untuk membesarkan anak dengan baik. Gak sadar, tau-tau anaknya sudah gede… Dah nggak aware lagi sama perkembangan anak mereka, baik psikologis atau pergaulan. Nah, jadinya kalau sudah besar mereka jadi paralisis atau anti sosial …”, kataku menambahkan.
Vince hanya diam, mendengarkan perbincangan kami. Tiba-tiba ia berujar, “Gue gak setuju dengan pendapat kalian.”
Aku dan Hadi memandang Vince. “Kenapa lu gak setuju?”, tanya Hadi.
“Gue ceritain sedikit tentang keluarga gue.”, Vince menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Bokap nyokap gue juga gak harmonis. Kalau bokap gue marah, dia main tangan. Waktu kecil, gue sering digebukin ama dia ... Suatu saat gue ngelawan dan berantem fisik ama bokap. Gue berontak ... Mungkin saat itu gue gak jauh beda dengan Iwan. Anti sosial, pemarah, emosional, suka berantem dan gak ada yang mau temenan ama gue kecuali preman. Waktu itu gue nakal banget …”
“Akhirnya nyokap gue dipanggil kepsek, gue dikeluarin dari sekolah … Nyokap gue kecewa banget ama gue. Dia nangis terus tiap malem. Gue anak satu-satunya yang jadi tumpuan harapan nyokap, malah jadi berantakan gini …”
“Saat itu gue merenungi nasib gue. Gue mengutuk diri ... Kenapa gue dilahirkan hanya untuk susah kayak gini. Gue iri sama temen gue yang lain. Yang orang tuanya perhatian. Selalu dipenuhi kebutuhannya. Nggak dimaki-maki dan disalahin terus …”
“Pada titik itu seakan gue dihadapkan pada pilihan. Gue mau nyerah tenggelam dalam kemarahan gue, dan menjadi makin amburadul … Atau gue mencoba melawan dengan nerima keadaan dan berdamai dengan diri gue. Demi nyokap.” Aku lihat setitik air menerawang dimata Vince.
“Gue berketetapan hati memilih. Gue gak mau jadi bajingan atau tukang madat, atau sampah. Paling nggak ini gue lakukin demi nyokap. Gue mulai mengontrol emosi gue, dan mulai mendekati lingkungan yang positif. Salah satunya ya berteman sama elu, Ben. Yah … inilah gue sekarang … gue gak ngobat .. gue gak mabok … ya ngerokok aja sih … Walau sesekali rasa marah itu ada, namun gue mencoba berdamai dengan diri gue. Gue dah maafin bokap gue ... Sekarang gue lebih tenang.”, kata Vince sambil memejamkan mata, seolah berusaha menghapus kenangan buruknya.
“Hm … Thanks Bro dah mau sharing … Emang gue ngeliat sikap lu dah lebih baik dari saat pertama kenal di kantor dulu.”, kataku. Aku terharu mendengar cerita Vince, dan kuyakin Hadi juga demikian.
“Vince, sharing lu tadi membuat gue lebih mensyukuri keadaan gue. Keluarga gue harmonis aja. Bonyok gue sangat memperhatikan gue. But kadang gue kurang menghargai perhatian mereka. Take it for granted. Thanks dah mau cerita.”, kata Hadi.
“Yah gue happy sharing ini bisa kasih masukan buat elu elu pada.”, ujar Vince.
Malam semakin larut dan rintik hujan mulai turun ...
Vince menyimpulkan pembicaraan kami, “Jadi Ben …, gue gak sepenuhnya setuju dengan pendapat lu. What makes a man, a man ..., IS NOT the hand that rock the cradle …”
Ia menghirup habis Hot Americano-nya sambil berujar …
“What makes a man, a man …
Is the choice that he makes.”

No comments yet