Sabtu, 15 Maret 2008
The Beauty Quardan
Beberapa kali Tommy menghubungiku untuk bertemu. Karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, baru hari ini aku dapat menemuinya. Sebelumnya Tommy pernah mengisi topik artikel di blog ini: The Greatest Motivation.
“Ben, gue punya topik buat blogmu. Kapan bisa ketemu?”, itulah yang dikatanya saat menelponku. Aku cukup penasaran, ‘topik’ apa yang ingin diutarakannya …
Setelah memarkir mobil, aku segera menuju Starbucks Citraland. Sesampainya disana ternyata Tommy telah menungguku terlebih dahulu. Dihadapannya terdapat dua gelas minuman. Aku tahu pasti, salah satunya adalah Ice Caramel Machiato.
“Gak usah pesen Ben. Gue dah beliin buat lu…”, katanya sambil menyilakanku duduk.
Aku duduk disofa berhadapan dengan Tommy. Setelah berbincang-bincang ringan sejenak, aku langsung bertanya mengenai ‘topik’ yang ingin diutarakan.
“Gue baca artikel lu yang judulnya dua sisi pria. Temen cewek lu yang mengutarakan. Kalau gak salah Manda ya namanya?”, kata Tommy.
“Oh … Two Sides of Men. Si Marchella. Kenapa ?” Jawabku sekaligus bertanya.
Aku perhatikan, es batu didalam gelas Caramel Machiato yang dipesan Tommy untukku, masih keras dan dingin. Tampaknya Tommy belum lama menungguku ...
“Kalau si Marchella bilang cowok ada 2 tipe. Sebagai cowok boleh dong gue bales bilang kalau cewek ada 4 tipe?”. Tommy mulai membuka topik dengan pertanyaan.
“Pourquoi pas? ... Why not?”, Balas ku bertanya.
Acuh tak acuh Tommy melanjutkan, “Lu pernah baca Robert Kiyosaki kan?"
“Pernah.”, Jawabku singkat. Inilah ciri khas Tommy selalu mengarahkan pembicaraan dengan pertanyaan.
“Disitu ada Cash Flow Quardan, 4 macam tipe orang cari duit. Nah gue sendiri menyimpulkan bahwa ada 4 macam tipe cewek, yang gue namakan Beauty Quardan. Bisa kebayang dong?”, ia mulai menyalakan rokoknya yang pertama. Berbincang dengan Tommy harus siap berhadapan dengan bau asap rokok yang terus ‘mengepul’.
“Yap, gue bisa bayangin, tapi gak nyambung rasanya. Apa hubungannya Cash Flow Quardan dengan 4 tipe cewek?”, sebenarnya aku bisa menduga maksud pembicaraan Tommy …
Tommy menjelaskan, ”Memang isinya gak ada hubungan, tapi peng-klasifikasiannya mirip … Ok, gini deh, gue gambar aja … Mungkin lebih gampang kalau lu liat gambar ini …” Tommy mengambil kertas tissue dan menggambar diagram diatasnya.
Tommy mempunyai daya analitis yang kuat. Bila sedang bekerja selalu metodis dan rapi. Namun seperti yang telah kubahas pada artikel sebelumnya, Tommy berkepribadian keras dan cuek. Mungkin memang inilah ciri-ciri karakter orang yang mengandalkan otak kirinya.
“Nah lu liat Ben … Cewek itu mempunyai dua kriteria utama, sisi vertikal adalah modal Kecantikannya … Dan yang horizontal adalah modal Sifat Baik atau Emotional Intelligence-nya …”, kata Tommy.
Aku melihat diagram itu. Hm … diagram kartesian 2 dimensi … Ya, mulai jelas apa yang ingin disampaikan Tommy.
Tommy melanjutkan, “Semakin ke kanan maka semakin tinggi sifat baik tuh cewek, semakin kiri semakin jelek. Juga sama dengan sifat kecantikan, semakin keatas semakin tinggi maka kebawah semakin jelek … Dari diagram ini gue buat 4 kotak yang menunjukan 4 tipe, hasil kombinasi dari 2 kriteria tadi, yaitu:
Tipe 1. Beauty High, Kindness High - Cantik dan baik hati.
Tipe 2. Beauty High, Kindness Low - Cantik tapi tidak baik hati.
Tipe 3. Beauty Low, Kindness High – Jelek tapi baik hati.
Tipe 4. Beauty Low, Kindness Low – Jelek dan tidak baik hati.”
Bau asap rokok sudah sangat mengganggu. Namun karena penasaran dengan penjelasan Tommy, aku menahan sebisanya. Tiba tiba seorang Barista cantik datang. “Maaf pak, kalau merokok silahkan duduk di kursi luar.”
Karena tanggung berpindah tempat duduk, Tommy lebih memilih mematikan rokoknya ...
Aku memberi senyuman kepada Barista itu, "Merci" … dan meneruskan perhatianku pada diagram yang digambar Tommy.
“Nah, tipe pertama … Gue gak banyak penjelasan. Udah cantik … baik hati pula … Gue namain tipe ini, tipe ANGEL. Sudah jelas. Cowok-cowok pasti pada rebutan ngedapetin cewek kayak gini … Sepanjang waktu, dia gak bakal kekurangan cowok yang ngejer … Grafiknya terus diatas kayak gini …”, Tommy mulai menggambar diagram baru di tissue.
Lanjut Tommy, “Tipe ini, walau cantik, biasanya sederhana, alami, gak matere, gak pilih-pilih temen and jauh dari sifat sombong … Namun cewek tipe ini harus hati-hati, karena rentan dengan rayuan gombal bajingan-bajingan perenggut cinta. Yang hanya modal ganteng and ngemeng doang …”
Sejenak ku berpikir, apakah barista tadi termasuk kriteria tipe pertama …
Tommy meneruskan pembahasannya. “Tipe yang kedua. Ini biasanya cantik, tapi hatinya jelek. Dia hanya mikirin dirinya sendiri. Biasanya tipe kayak gini, mau menang sendiri, keras, matere dan gak peduli perasaan orang. Dia nggak ragu menggunakan kecantikannya untuk memanfaatkan para cowok. Nah … awalnya banyak cowok yang terperangkap, mau dimanfaatin dan digunain ama dia. Lama-lama cape juga kan, cowok-cowok mulai menjauh… Nah kalau dia dah mulai tua dan gak sadar-sadar, maka semakin sedikit cowok yang deketin dia. Maka grafiknya kayak gini jadinya …”
“Cewek tipe ketiga, secara fisik gak cantik alias jelek. Namun hatinya baik … Tipe ini biasanya asyik dijadikan temen baik. Enak diajak ngobrol, humoris, pinter dan temen kerja yang handal. Cewek ini biasanya sudah menerima dirinya apa adanya. Memang, awalnya sedikit cowok yang deketin … Tapi kalau dia sabar dan terus bersikap baik, maka lama kelamaan pasti cowok akan simpati dan mulai deketin dia. Grafiknya kayak gini …”. Tommy menggambar sebuah diagram lagi ...
“Tipe terakhir, ini yang paling parah. Sudah jelek, sifatnya ancur lagi. Tipe ini, tipe yang gak sadar diri. Terlalu over confidence. Gak sadar dirinya jelek. Udah jelek, dia malah cari yang ganteng-ganteng. Pilih pilih temen, dia gak mau kalau deket-deket cowok jelek. Padahal ya dia sendiri jelek. Dandanannya menor, kadang gak pake otak kalau pake baju. Ngomongnya sok, berlagak tinggi … Walau sebenernya jiwanya labil dan haus kasih sayang. Namun karena sifatnya itu, ya gak ada yang deketin dia.”, Tommy menggambar diagram untuk tipe terakhir ini.
Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menyanggah deduksi Tommy. Memang secara teoritis pembagian tipe karakter wanita ini cukup jelas dan metodis.
“Pada dasarnya gue setuju sih Tom. Namun gue ragu apakah kategorinya sesaklek (sejelas) itu. Menurut gue, berhubungan dengan perasaan atau sifat manusia itu gak ada rumus yang baku. Pasti ada dinamika dan berubah-ubah sesuai lingkungan dan pergaulan.”, sanggahku sebisanya.
Tommy menjawab, “Gue tau Ben …, tapi secara umum lu setuju dong dengan Quardan ini?”
Lagi-lagi Tommy mengarahkan pembicaraan dengan pertanyaan. “Ya bisa gue paham maksud elu.”
“Kalau lu dah muat topik ini di Blog lu, gue minta tolong kasih tau Marchella … Gue pengen tau tanggepan dia tentang argumen gue.”, pinta Tommy.
Tommy memang belum mengenal Chella secara langsung. Dia tau Chella dari blog dan ceritaku saja. “Ok gue sampein ke orangnya. Nanti kalau dah dapet jawaban gue kasih kasih tau elu.”, jawabku.
Tidak lama kita melanjutkan obrolan, kemudian aku pulang sebelum malam benar-benar larut ...
Dimobil, kembali kupikirkan arti ‘topik’, yang dengan tidak sabar Tommy ingin sampaikan kepadaku. Hm … 4 tipe wanita. Apakah hanya ini? Menimbang karakter Tommy yang metodis aku yakin dia memiliki maksud tersendiri …
Voila … tentu saja, dia ingin mendekati Chella … Dia ingin aku mengenalkan Chella kepadanya. Rupanya ia 'gengsi' meminta tolong secara langsung kepadaku. ‘Topik’ ini hanyalah kamuflase-nya, satu langkah awal, untuk lebih dekat ke Chella.
Baiklah, aku coba mengenalkan Chella ke Tommy ... Ingin kulihat bagaimana Tommy mendekati Chella dengan berbagai 'jurus' dan teori yang pernah diajarkannya kepadaku.
Yang 'cowok' dominan otak kiri, yang 'cewek' dominan otak kanan … Hm … Akan menarik untuk dilihat kelanjutannya …

No comments yet