Sabtu, 09 Februari 2008

The Handsome God


Aku hitung ada 3 barongsai yang menari diruangan itu. Warna merah, biru dan hijau, semuanya menari-nari dari meja ke meja sambil mengumpulkan angpao. Diiringi tabuh genderang barongsai, aku menikmati makan siang di sebuah restoran China, Hotel Mulia Senayan. Hari itu adalah hari Raya Imlek. Aku diundang Bastian makan bersama keluarga besarnya. Lebih dari 5 meja besar dipesan khusus oleh keluarga Bastian. Kami menikmati jamuan Imlek dengan 12 hidangan istimewa.

Bastian memang berasal dari keluarga ‘kaya lama’. Sebagai putra keluarga kaya, Bastian memiliki segalanya; rumah megah, mobil mewah, uang bukan masalah baginya. Tidak hanya itu, Bastian memiliki wajah ‘very very handsome’, dengan postur badan tinggi dan atletis. Semua wanita pasti akan takluk padanya, dan pastinya membuat para pria menjadi iri hati.
Saat itu aku duduk semeja dengan Bastian dan Amanda, pacarnya yang sangat cantik. Amanda berasal dari Thailand, sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, sehingga percakapan dimeja kami berlangsung menggunakan bahasa Inggris. Namun tepat duduk disampingku ada kakek Bastian yang tidak bisa berbahasa Inggris. Sesekali aku berperan sebagai penerjemah, sehingga kakek Bastian tidak menjadi bosan atau merasa diacuhkan.

Setelah makan, Bastian mengajakku ke Plasa Senayan untuk mengantar Amanda berbelanja, sekaligus ‘ngopi’ di Starbucks. Padahal saat itu perutku sudah kenyang. Hm … namun Grande Ice Caramel Machiato tak bisa kutolak. Kami pun beranjak dari meja kami dan pamitan kepada keluarga Bastian. Saat berpamitan, kakek Bastian ternyata ingin ikut jalan-jalan bersama kami. Kami pun berangkat berempat ke Plasa Senayan dengan mobil sedan sport, Mazda, miliki Bastian.

Setelah sampai di Starbucks kami langsung memesan minuman dan duduk disofa dekat jendela yang menghadap kearah jalan pramuka. Aku, Bastian, Amanda dan Kakek berbincang-bincang sambil menikmati kopi kami masing-masing. Tak lama berselang, Bastian mengatakan akan mengantar Amanda belanja sebentar.

Bastian berkata, “Tolong jagain opa gue sebentar, Ben.”

“Ok gak apa. Lu jalan aja, gue tungguin opa lu.” jawabku.

Padahal dalam hati aku meratapi nasib, “Duh lu enak-enakan shopping berduaan ama pacar lu yang cakep. Nah gue ditinggal sendiri untuk jagain opa lu. Ya sudah ...”. Saat itu aku berpikir betapa nikmatnya hidup sebagai seorang Bastian.

Setelah Bastian dan Amanda pergi, aku mencoba mengajak sang kakek untuk ngobrol. Tak disangka ternyata sang kakek sangat ramah dan humoris. Dia bertanya-tanya mengenai asal usul keluargaku serta latar belakang pekerjaan dan pendidikanku. Walau sudah tua, sorot mata kakek Bastian masih sangat tajam. Pikirannya masih jernih, dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukan sang kakek mulai pikun.

“Opa mau saya pesankan minum lagi?”, tanyaku.

Jawab sang kakek, “Tidak usah Ben, seumuran opa sebenarnya sudah tidak boleh minum yang manis-manis. Kadar gula nanti naik.”

Kami kehabisan bahan obrolan. Sesaat aku merasa kakek Bastian sedang mengamatiku, seakan berusaha menganalisa kepribadianku.

“Kamu pernah dengar tentang Pa Sien, Delapan Dewa?”, tanya kakek Bastian.

“Delapan dewa saya pernah denger, tapi tidak inget ceritanya.”, jawabku.

“Opa ingin cerita tentang kisah hidup salah seorang delapan dewa yang bernama Li TieGuai.”

“Wah, kebetulan saya suka sekali mendengar kisah legenda Cina. Silahkan mulai opa.”, jawabku sesopan mungkin. Berikut ini aku ceritakan kembali kisah Lie Li TieGuai yang kudengar dari Kakek Bastian dengan bahasa tulisanku sendiri.

Dahulu kala, hiduplah seorang anak muda bernama Li Yuan. Ia berasal dari keluarga pedagang yang kaya raya. Pergaulannya luas dan teman-temannya sangat banyak. Selain dilimpahi dengan kekayaan, Li Yuan diberkahi dengan wajah yang sangat tampan. Para wanita memuja dan tergila-gila pada Li Yuan.

Namun ada satu hal yang membuat Li Yuan berbeda. Sejak kecil keinginan Li Yuan belajar tentang agama sangat tinggi. Berbagai buku dibacanya, berbagi guru dikunjunginya. Semakin dewasa, obsesinya untuk meraih kesempurnaan dan mencapai nirwana semakin besar. Li Yuan mulai menghindari hal-hal duniawi dan berkonsentrasi mempelajari agama. Seringkali ia lupa makan dan minum, bahkan jarang sekali tidur. Hal ini membuat dewa dewi dikayangan tersentuh.

Semakin hari ilmu Li Yuan semakin tinggi. Berbagai ilmu sakti dikuasainya, salah satunya adalah ia dapat melepaskan jiwanya untuk berkelana ke alam lain.

Pada suatu hari Li Yuan hendak bertapa dibawah pohon ditengah hutan selama 7 hari, untuk melepas raga dan berkunjung ke kayangan. Ia mengajak seorang pembantunya dan berpesan agar menjaga tubuhnya siang dan malam, sehingga tidak diganggu binatang buas atau penjahat.
Setelah itu ia mulai bertapa dan melepaskan jiwa dari raganya. Di kayangan, ia disambut oleh para dewa dewi yang membantunya untuk memperdalam ilmu demi mencapai kesempurnaan.
Pembantu Li Yuan dengan setia menjaga jasad majikannya. Tak terasa sudah 6 hari berlalu … … Tiba tiba seorang saudara dari pembantu Li Yuan datang dengan terburu-buru dan memberi kabar bahwa ibunya sakit parah dan menjelang ajal. Ia diminta segera pulang.

‘Bila aku pulang sekarang, maka aku tidak setia pada majikanku. Dan bila aku tidak pulang sekarang maka aku tidak berbakti pada ibuku.’, pikir pembantu Li Yuan serba salah. Ia memutuskan untuk memeriksa jasad majikannya, siapa tau ia bisa membangunkannya. Tapi alangkah terkejutnya pembantu Li Yuan ketika melihat jasad tersebut kaku dan tidak terasa detak jantung. Dengan terburu-buru pembantu tersebut menyimpulkan bahwa Li Yuan telah meninggal. Maka ia pun membakar mayat Li Yuan, agar jasadnya tidak dikoyak-koyak binatang buas. Ia pun segera pulang untuk menjaga ibunya yang sedang menjelang ajal.

Setelah berhari-hari berada dikayangan maka Li Yuan pulang ke bumi. Namun sesampainya di bumi Li Yuan tidak dapat menemukan jasadnya … Ia berputar-putar mencari jasadnya. Ketika menemukan sisa jasadnya yang terbakar, alangkah terkejut dan sedihnya Li Yuan. Saat itu hari sudah mau pagi, Li Yuan harus segera mencari pengganti jasadnya sebelum ayam berkokok, bila tidak selamanya ia akan menjadi arwah gentayangan.

Li Yuan pun segera mencari jasad orang yang baru meninggal. Namun lama berputar-putar Li Yuan tidak menemukan jasad yang cocok, hari mulai terang. Tidak banyak pilihan lagi yang harus dilakukan. Li Yuan pun pasrah. Arwahnya bergentayangan ditepi sebuah sungai … Namun tiba tiba dia melihat sesosok jasad manusia yang baru saja meninggal, tanpa pikir panjang ia segera masuk kedalam jasad tersebut untuk kembali menjadi manusia.

Ayam pun berkokok … Li Yuan bangun dengan jasad barunya. Namun alangkah terkejutnya Li Yuan, ketika menyadari jasad baru tersebut adalah jasad seorang pengemis pincang. Ia melihat pantulan wajahnya di sungai, wajah yang dulunya tampan telah hilang berganti wajah kotor, gemuk dan berewok yang degil. Tubuhnya yang tinggi dan rupawan telah berganti menjadi gemuk tak terawat, dengan kaki pincang sebelah. Baju yang ia kenakan sekarang bukan baju indah dan mahal, melainkan hanyalah pakaian compang camping, kotor dan bau. Tangannya memegang tongkat bambu untuk membantunya berjalan, serta buli buli minuman keras berbentuk buah labu.

Ia pun berteriak, marah, kecewa, dan seakan tak percaya hal ini dapat terjadi pada dirinya. ‘Oh sia sia semua hal yang kupelajari selama ini… Oh langit kenapa hal ini bisa terjadi padaku’. Sambil menangis dan langkah pincang ia berjalan tak tentu arah …

Ia berusaha kembali kerumahnya, namun tidak ada satu orang dirumahnya yang dapat mengenalinya … ia pun diusir seperti anjing liar. Dipukul dan ditendang serta dilempar ketengah jalan oleh para pengawal yang dulu menjaganya. Ia pun berjalan kesana kemari tak tentu arah … Dengan terpaksa ia menjadi pengemis sungguhan hanya untuk sekedar hidup.

Suatu ketika ia bertemu dengan teman-temannya dulu. Namun menyadari keadaan dirinya, ia hanya dapat mengikuti mereka. Ia melihat mereka masuk ketempat perjudian. Sambil mencuri dengar ia mendengar salah seorang temannya berkata, “Li Yuan lama tidak terlihat, kemana dia? Bila ada dia kita dapat dengan mudah menipu uangnya. Ia sangat polos dan lugu.” Teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak … Merasa tertipu Li Yuan langsung naik pitam. Tapi teman-temannya tidak mengenalinya. “Hai kamu pengemis jelek, kamu tidak layak untuk hidup.” Li Yuan diludahi dan dipukuli habis-habisan oleh orang yang dulu dikenal sebagai teman-teman baiknya. Setelah semuanya pergi, Li Yuan pun bangkit dengan lunglai … Ia melanjutkan hidupnya dengan mengemis kesana sini.

Suatu saat ia bertemu dengan wanita-wanita cantik yang dulu pernah mengagumi dan mengharapkannya. Ia mencuri dengar pembicaraan mereka. “Li Yuan lama tidak kelihatan, aku rindu padanya. Oh dia sangat tampan dan kaya raya. Kalau aku jadi istrinya pasti aku sangat bahagia. Setiap hari aku bisa membeli baju atau barang-barang mewah yang kusuka. Anak-anakku pun pasti akan tampan seperti ayahnya.” Tergerak dengan pembicaraan para wanita itu, Li Yuan pun memperlihatkan diri. Namun tiba-tiba para wanita itu berteriak-teriak, “Pergi kamu pengemis jelek, aku tidak sudi melihat mukamu yang buruk itu. Pergi kamu atau aku panggilkan pengawalku untuk mengusirmu .. Jijik aku melihatmu.”. Terpukul dengan perkataan mereka Li Yuan pun pergi.

Langkah demi langkah ia berjalan, tak terasa sudah sampai di tepi sungai tempat ia dahulu menemukan jasad barunya. Hasrat untuk mengakhiri hidupnya sedemikian kuat. Ia ingin bunuh diri …

Ia pun memandang langit, memikirkan jalan hidupnya saat ini … keinginannya mencapai kesempurnaan, seakan sudah lama dia lupakan. Tiba tiba ia tersadar … ya kesempurnaan ... “AKU SUDAH MENEMUKANNYA”. Ia pun bangkit dengan kakinya yang pincang … dan berteriak teriak penuh kegirangan … bersuka cita ditengah sepinya sungai itu.

“Oh Langit … Oh Tuhan … terima kasih … Tanpa jasad buruk rupa dan tak sempurna ini aku tidak akan dapat menemukan kesempurnaan. Aku paham akan semua ini … Bila aku tetap tampan dan kaya, maka hatiku akan tetap buta. Kekayaan membawa persahabatan semu. Ketampanan membawa cinta yang palsu. Dengan jasad ini aku bisa melihat sisi asli manusia sesungguhnya. Dengan jasad ini aku lebih bebas dan dapat memahami arti sesungguhnya. Aku memahami arti penderitaan sekaligus kebahagian sejati. Oh, telah terlepas belenggu keduniawian yang selama ini membutakan ku …”

Tiba-tiba langit diangkasa bergemuruh … awan memecah dan dari angkasa turunlah dua sosok dewa utama, Lao Tzu dan Dewi Hsi Wang Mu. Li Yuan segera bersujud dan soja … Lao Tzu bersabda, “Li Yuan kamu telah mencapai pencerahan. Semua ilmu yang kau pelajari telah sempurna. Langit telah mengijinkanmu menjadi Dewa, sekarang kamu bergelar Li TieGuai.”. Dewi Hsi Wang Mu, mengganti tongkat bambunya menjadi tongkat emas, dan memberi ikat kepala emas kepada Li TieGuai. “Tolonglah manusia yang berada dalam kesusahan, ringankan penderitaan manusia yang hidup di alam fana ini.”, sabda Hsi Wang Mu. Li TiGuai berkata, “Segala pesan akan ananda laksanakan.”

Kini Li Tie Guai telah menjadi Dewa dan membantu manusia yang membutuhkan pertolongan. Bahkan, Ia berkunjung ke rumah pembantunya, dan menyembuhkan ibunya yang sakit parah. Ia menjadi dewa yang paling tua diantara Pa Sian, delapan dewa. Demikianlah kisah Dewa Lie TieGuai.


“Cerita yang bagus opa.”, kataku.

“Ya, semoga kamu dapat ambil hikmahnya. Kamu anak baik.”, ujar kakek Bastian.

Walau aku masih bingung apa hikmah yang dapat kupetik dari cerita ini, aku tetap berkata, “Terima kasih opa. Banyak hikmah yang bisa saya ambil.”

Tak berapa lama Bastian datang bersama Amanda. Kami melanjutkan obrolan sebentar. Amanda menunjukan beberapa barang yang ia beli. Namun pikiranku masih mengawang, hikmah apa yang bisa kupetik dari cerita ini?

Dalam perjalanan pulang aku masih memikirkan maksud kakek Bastian menceritakan hal ini kepadaku … Mungkin kakek Bastian menceritakan hal ini, agar aku tidak iri pada apa yang Bastian miliki. Agar aku lebih bersyukur terhadap apa yang aku punyai dan menerima kenyataan hidup. Dan sepertinya, kakek Bastian ingin mengatakan bahwa hidup dalam kelimpahan seperti Bastian itu tidak selamanya baik.

Hm, memang sejak mendengar cerita Lie TieGuai, aku menjadi tidak begitu iri dengan Bastian.
Aku tidak iri dengan mobil mewahnya.
Aku tidak iri dengan wajahnya yang tampan.
Aku tidak iri dengan kekayaannya.
Aku tidak iri dengan pacarnya yang cantik (well, mungkin sedikit, hehehe).

Namun satu hal yang aku tetap iri dari nya …

Aku iri karena Bastian mempunyai kakek yang Bijaksana.

No comments yet