Sabtu, 26 Januari 2008
Marcianus The Kind
Roma, 438 AD...
Tahun yang tidak mungkin dilupakan oleh Marcianus. Tahun itu, ia ditunjuk oleh Kaisar Roma menjadi penerus tahta Imperium Roma. Namun menjadi Kaisar Roma bukan pekerjaan mudah. Saat itu Roma telah melewati masa Jayanya. Dibalut oleh korupsi yang merajalela, para senator yang hanya mementingkan dirinya sendiri, para jendral militer ambisius siap untuk melakukan kudeta, ditambah ancaman serbuan bangsa barbar diperbatasan. Roma bagaikan bintang terang yang sudah mulai meredup.
[Untuk membantu pembaca dalam membayangkan setting sejarah dari narasi ini, bisa mengingat-ingat film Gladiator, yang dibintangi Russell Crowe.]
Penunjukan Marcianus sebagai penerus tahta Roma, membawa harapan baru. Berasal dari keluarga yang memiliki hubungan darah dengan Julius Caesar, Marcianus populer dikalangan senator. Kepemimpinan dan keahlian strategi militer membawa kemenangan untuknya dalam menaklukan bangsa Parthia di Timur. Prajurit dan kalangan militer sangat loyal dan mencintainya.
Dua tahun kemudian, suku-suku bangsa Germania bersatu untuk melakukan pemberontakan. Mereka mengumpulkan pasukan yang sangat besar dan menggerakannya langsung menuju jantung kekaisaran Roma.
Saat itu sebagian besar legiun tentara Roma tersebar diberbagai perbatasan. Tidak ada waktu lagi untuk memanggil mereka pulang menghadap serangan mendadak ini. Capitol Hill, tempat para Senator berkumpul terjadi perdebatan sengit, siapa yang dapat menghadang laju pasukan barbar Germania. Para jendral yang ada di Roma, mencari cari alasan untuk menghindari tanggung jawab besar ini. Para senator pun mulai menyiapkan syarat-syarat perdamaian dan uang tebusan yang besar.
Ditengah debat tak berkesudahan tiba-tiba terdengar suara lantang, “QUI DESIDERAT PACEM PRAEPARET BELLUM” – Those who desire peace must prepare for war. Tersentak oleh suara lantang tersebut para senator terdiam. Dengan langkah mantap dan pandangan tajam menyapu ruang senat, Marcianus berjalan menuju ke tengah podium, dan berkata “Berikan aku kuasa untuk membentuk satu legiun tentara, dan akan kuselamatkan Roma dari ancaman bangsa Germania.”
“Tapi bagaimana mungkin anda membentuk satu legiun dalam waktu singkat. Andaikata terbentuk pun paling hanya terkumpul 30.000 ribu prajurit saja yang berada di semenanjung Italia. Bagaimana dengan 30.000 ribu prajurit anda menghadang laju 150.000 prajurit Germania yang haus darah?” Sanggah salah seorang senator.
“Prajurit Roma sejati tidak bertanya ‘HOW MANY’, tetapi ‘WHERE and WHEN’.” Jawab Marcianus.
Dengan tidak mempunyai banyak pilihan Kaisar dan Senat Roma memberikan mandat bagi Marcianus untuk membentuk satu Legiun baru pasukan. Tidak berapa lama, satu legiun tentara Roma sudah terbentuk namun hanya terkumpul kurang lebih 20.000 ribu pasukan. Waktu yang sudah semakin mendesak Marcianus segera menggerakkan pasukannya menuju Alpen Pass, sebuah jalan sempit yang diapit oleh pegunungan putih Alpen.
Perhitungan Marcianus yang jitu memilih lokasi Alpen Pass sebagai tempat pertahan, membuat gerak laju pasukan Germania terhambat. Dengan berada di lokasi ini, Legiun Marcianus tidak perlu mengkhawatirkan serangan dari samping, atau terkurung pasukan musuh yang besar.
Gelombang demi gelombang serangan musuh dapat ditahan oleh Legiun pasukan Marcianus. Walau kalah jumlah, pasukan Marcianus berperang dengan gagah berani. Terinspirasi oleh Sang Jendral mereka tidak mundur selangkahpun. Dan akhirnya moral pasukan Germania runtuh. Korban yang jatuh sangat besar serta perbekalan yang semakin menipis, membuat pasukan Germania mundur dari medan perang.
Berita kemenangan Marcianus disambut sorak sorai dan perayaan diseluruh kota-kota Italia. Namun, belum sempat Marcianus kembali ke Roma untuk merayakan kemenangannya. Mata-mata melaporkan bahwa Bangsa Gaul, Celtic, Saxon, dan suku-suku Barbar lainya telah menyiapkan gelombang serangan berikutnya. Kaisar pun memerintahkan Marcianus untuk tetap bertahan dan berjuang melindung Roma.
Tahun demi tahun berlalu, tak terasa sudah 12 tahun Marcianus menjaga Alpen Pass dan mempertahankan Roma dari gelombang serbuan pasukan Barbar. Usia Marcianus saat ini 48 tahun, namun rambutnya telah mulai memutih sebelum waktunya. Tekanan di medan perang dan hawa dingin yang menghimpit mulai mempengaruhi kesehatannya.
Suatu hari, saat Marcianus sedang berdiskusi dengan para Jendralnya, datanglah utusan kaisar menghadap. Utusan itu membawa kabar yang sangat buruk. Kaisar memutuskan bahwa Marcianus dicopot dari jabatannya sebagai putra mahkota. Serentak para jendralnya bangkit dan menghunus pedang untuk membunuh utusan itu. Salah seorang jendralnya berteriak, “Marilah kita memberontak, karena pengkhianatan adalah harga yang dibayar oleh Roma bagi putra terbaiknya.” Suasana menjadi kalut dan penuh amarah.
Marcianus berkata dengan lantang, “Aku terima keputusan Roma, aku akan mundur dari jabatan ku sebagai putra mahkota.” Para Jendral serentak terdiam, dan saling berbisik. Salah seorang memberanikan diri untuk bertanya, “Mengapa paduka menerima keputusan itu? Itu adalah keputusan yang tidak adil.”
Jawab Marcianus, “Ketahuilah wahai sahabatku. Roma saat ini berada di ambang kehancuran. Kaisar kita saat ini sudah tua dan akan wafat. Bila aku diangkat menjadi Kaisar, maka aku harus kembali ke Roma dan tidak bisa memimpin pasukan lagi… Aku yakin keputusan kaisar dilandasi oleh pertimbangan yang matang. Aku lebih dibutuhkan disini, ditengah kalian untuk melindungi Roma dari serangan bangsa Barbar.”
“Kedudukan Kaisar tidaklah penting buatku. Kedamaian Roma impianku. Bila harus 100 tahun aku berdiri disini demi kejayaan Roma, maka aku akan berdiri disini 1000 tahun lagi.”
Semuanya diam dan sunyi ….
Marcianus melanjutkan, ”It is beautifull for one, to live for the glory of his country. Or, with the glory of his country, Die.”
Hisak tangis dan rasa sedih, merayapi perkemahan tentara saat itu … Tidak ada kata-kata lagi yang dapat diucapkan, karena masing-masing sudah mengetahui nasib yang terbentang dihadapan Marcianus.
Dan demikianlah … Setelah 22 tahun, menjaga Alpen Pass dari serangan bertubi-tubi bangsa Barbar, pada umur 58, Marcianus wafat.
Jenasah Marcianus diarak dari pintu gerbang kota Roma menuju Palatine Hill tempat istana kekaisaran. Jenasahnya diratapi dan ditangisi oleh rakyat Roma. Baik tua muda, miskin kaya, semuanya berkabung dan meneriakan seruan “Marcianus … Marcianus … The Kind”. Kaisar baru memerintahkan Jenasah Marcianus dimakamkan dengan upacara layaknya seorang Kaisar.
………
Sejarah mencatat … 476 AD … Roma Runtuh. Bangsa Germania dibawah pimpinan Odoacer, akhirnya menaklukan Roma. Apakah bila Marcianus tetap hidup, Roma akan terselamatkan?
Kita tidak akan pernah tahu. Karena Marcianus ini bukanlah tokoh sejarah. Dia hanyalah sebuah karakter yang diciptakan oleh komputer dalam permainan strategi, ROME. Semua kisah ini memang terjadi, namun dalam permainan yang kuinstall di laptop. Ku mainkan game ini saat menikmati waktu senggang di SB Plasa Senayan, sambil tentunya menikmati Caramel Machiato.
Marcianus bukanlah Flesh and Blood, dia hanyalah Bits and Bytes. Tindaknya didasari oleh Artificial Intelligence yang telah diprogram kedalamnya.
Adalah aku yang menunjuknya sebagai putra mahkota,
Adalah aku yang menempatkannya pada posisi sulit,
Adalah aku yang mencopotnya dari kedudukannya sebagai putra mahkota.
Tanpa dia aku tidak bisa memenangkan Game ini. Cerita ini adalah my tribute dan kenangan kecil atas dirinya. Semoga aku dapat seperti Marcianus yang satria dan cinta tanah air.
Bila dalam posisi sulit, Remember … Marcianus The Kind.

No comments yet